Daisypath Happy Birthday tickers

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers

Mengenai Saya

My Photo
Aku ya aku.. Hanya menulis disaat ingin menulis..

Wednesday, 1 February 2012

"Fix iT"

Belakangan ini lagi marak temen-temen yang curhat ke gw mengenai "perbedaan". Mereka pacaran dengan orang yang "berbeda". Mengapa di Indonesia ini memiliki banyak "perbedaan". Dari suku, budaya, status sosial, sampai agama. Bukankah "perbedaan" membuat hidup lebih berwarna? Namun apakah warna tersebut malah membuat tidak indah apabila kita satukan? Khususnya dalam menjalin suatu hubungan diantara orang-orang yang "berbeda". Banyak masalah timbul karena "perbedaan" tersebut. Ada yang tidak direstui orangtua karena "perbedaan" status sosial, ada yang selalu berantem karena "perbedaan" suku bangsa yang berpengaruh akan sifat yang bertolak belakang. Bahkan "perbedaan" agama yang masih sulit disatukan karena hal ini merupakan prinsip mendasar dalam suatu kehidupan yang sangat sulit disatukan dalam hubungan perkawinan.

Seperti kata Marcel bilang : 
"Aku untuk kamu, Kamu untuk aku.. 
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda.. 
Tuhan memang satu, kita yang tak sama.. 
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takan bisa pergi.."

Apa sih yang lo cari dalam suatu hubungan? kenyamanan? kesamaan hobi? kesamaan visi dan misi? ketertarikan fisik? kekayaannya? masa depannya? pekerjaannya? semua itu tentang kesamaan. Apa ada yang mencari pasangan karena "perbedaan"? "Perbedaan" cuma membuat hubungan ngga membaik, minimal dalam suatu hubungan harus memiliki satu kesamaan. Kalo tidak, mereka ga akan bisa nyambung dalam hal komunikasi.
Lalu bagaimana suatu hubungan yang sudah terlanjur dibina, dirasa, kemudian hancur begitu saja hanya karena satu "perbedaan" yang mendasar? Apakah itu adil? apakah keduanya sama-sama rela ngelepas suatu kenangan dan kebiasaan yang sudah dibangun sejak lama?

Temen gw pacaran hampir 6 tahun, sudah hampir nikah, namun semua kandas tiba-tiba hanya dengan SMS. Mereka putus via SMS saja tanpa adanya ketemu langsung, ngomong baik-baik, 6 tahun hanya dihargai dengan SMS. Pilihan yang sulit karena saat bertemu semua keputusan dapat saja berubah, namun apakah semua itu dapat dinilai hanya dengan SMS?Ironi..

Temen gw pacaran 2 Tahun nyaris ga jadi nikah karena "perbedaan", beruntung keluarga pada akhirnya menyetujui mereka dengan syarat-syarat yang cukup banyak. Membuat sedih dan ribet, namun perjuangan sampai ke pernikahan itu susah, dan bagi yang bisa melewatinya dan berhasil membuat gw salut akan mereka. Bisa ngeyakinin kedua belah keluarga yang ga mudah pastinya. Dengan kesamaan prinsip saja udah susah nyatuin kedua keluarga, apalagi "berbeda" prinsip seperti ini.  Saluuut...

Kakanya temen gw pun memiliki cerita yang serupa, pacaran sudah 6 tahun, didesak harus segera menikah, namun kebingungan dengan prinsip yang mereka anut "berbeda". Alhasil karena "berbeda" mereka putus begitu saja dan perempuan tersebut baru menikah seminggu yang lalu karena dijodohkan. Semua akan lebih mudah dengan adanya "kesamaan".

Temen gw cerita jika dia memiliki hubungan dengan seseorang yang "berbeda" prinsip mendasar. Kenyamanan didapat, quality time dalam hubungan mereka selalu ada, ketertarikan pun sudah terjalin, sayang sudah pasti, kesamaan hobi dalam traveling, intensitas ketemupun cukup sering, namun karena satu hal yang mendasar menjadikan mereka ga bisa bareng. Alhasil hubungan mereka sekarang menjadi tidak seakrab dulu, adanya batas diantara mereka dan seakan-akan menjadi new person yang saling tidak kenal satu sama lainnya. Apakah itu jalan terbaik? Saling menyakiti satu sama lainnya walaupun bukan itu yang diinginkan. Kenapa tidak bisa menjadi biasa saja dan selayaknya sahabat? Memang sulit menahan suatu perasaan, hanya saja jika sudah tidak memiliki waktu mengapa tidak dimanfaatkan sebaik mungkin?

"Perbedaan" itu simple. Jangan bermain api jika pada dasarnya "berbeda". Jangan terjerumus semakin dalam jika sudah "berbeda". Jika sudah masuk lebih dalam apa yang harus dilakukan? "FIX IT"
Hal tersulit adalah ketika kita harus merecovery perasaan kita. Dimana perasaan itu ga ada yang bisa kontrol. Ketika sudah memiliki 100 persen untuk menurunkan 1 persen saja akan sulit. Namun sebaliknya, dari yang 0 persen dapat langsung 50 persen akan jauh lebih mudah apabila memiliki suatu kesamaan dan ketertarikan lainnya.

Hal yang sampai sekarang para wanita sering dirugikan karena pada dasarnya perasaan seorang pria itu 100 ke 0 sedangkan wanita itu 0 ke 100. Sehingga pada akhirnya ketika putusnya suatu hubungan seringkali para wanita yang sulit bangkit dibandingkan pria. Ditambah lagi para pria dengan mudahnya memilah antara logika dan perasaan sedangkan wanita akan mencampurkan logika dan perasaan sehingga seringkali tidak dapat berpikir jernih. Come on girls move on.. Use the ratio dont use the feeling. (but HOW?)

Dalam merecovery perasaan banyak hal yang dapat dilakukan namun tidak semua dapat berjalan lancar. Kuncinya satu. Ketika lo sakit hati maka obatnya adalah hati kembali, ketika lo putus cinta maka obatnya adalah cinta yang baru, karena perasaan ga bisa dibohongi, ketika sakit ga ada yang bisa ngobatin selain diri lo sendiri. Mau move on cepat dan ketemu orang yang baru atau move on secara lambat sambil nikmatin rasa sakitnya itu sampai mengakar dan hilang dengan sendirinya (ga tau sampai kapan, cuma waktu yang bisa jawab).


Elska,
V

3 comments:

  1. cerita yang ini berlandas pengalaman pribadi dan orang lain, tapiiiiiii.......... mana jatoh guling-gulingny? ah ngga seru, ga ada jatoh jatohanny!!!! hohohoho.... ۳( ‾▿▿▿‾ )۳

    ReplyDelete
  2. bukan pengalaman pribadi, pengalaman orang lain. Maksud L......
    cukup saya sekali cerita tentang aib saya sendiri ya.. Selamat menikmati cerita berikutnya..

    ReplyDelete
  3. hmmmmmmm..... gada yang jatuh gluntung2ny, kurang seru!!! (¬˛¬)

    ReplyDelete