Daisypath Happy Birthday tickers

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers

Mengenai Saya

My Photo
Aku ya aku.. Hanya menulis disaat ingin menulis..

Thursday, 22 December 2011

ibu menculik anak kandung sendiri?

Berawal dari hasil chating dengan temen saya, tentang ibu yang dituduh menculik anak kandungnya sendiri. WHAT?? mana ada ibu kandung menculik, peradilan macam apa di Indonesia yang sampai membenarkan ibu kandung menculik anak kandungnya sendiri. Penasaran akhirnya cari deh sumbernya dan saya dapat beritanya di koran Pikiran Rakyat.

Ceritanya :
Sang Ibu yaitu F bercerai tahun 2005 dengan mantan suaminya yaitu P, dan hak asuh anak yang terkecil diberikan pada sang ayah padahal umur anaknya D dan J masih di bawah umur. ANEH..Walau demikian, kedua anak mereka, secara naluri, ikut dengan F.

Berawal dari suatu hari di apartemen mewah di kelapa gading Jakarta, F sedang bermain tenis dengan kedua anaknya tersebut lalu polisi datang dan menangkap F dengan tuduhan penculikan terhadap anak kandung. Dan sekarang yang sedang berjuang membebaskan F adalah anak terbesarnya dan usaha anak terbesarnya adalah meminta agar ayahnya dapat mencabut tuduhan pada ibunya namun ayahnya tidak menggubrisnya.

Menurut, Jaksa Penuntut Umum (JPU), F terancam Pasal 330 ayat 1 dengan ancaman hukuman penjara selama tujuh tahun. Kemudian, Undang Undang Hak Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara selama 15 tahun.wooooww... ga salah nih? walaupun orangtua sudah bercerai tapi anak kandung tetap lah darah daging sendiri. ga mungkin dong orang tua kandung menculik anaknya sendiri. beda cerita kalo asisten rumah tangga menculik anak majikannya. memang Hukum dan Perasaan sulit disatukan. Orang yang bersalah bisa jadi benar dan orang yang benar malah jadi salah.

Sebelumnya, F dituduh menculik J di Quantum Children Learning Centre, Jalan Pasirkaliki Nomor 143, Kota Bandung.kemudian, F meminta adiknya, yaitu T untuk masuk ke tempat les J. Kemudian, T mengajak J bertemu F di mobil. Setelah itu, J dibawa pergi F tanpa memberitahu P. Memang sudah masuk pengadilan, namun sudah berkalikali F dipanggil tapi tidak memenuhinya sehingga lima bulan tidak diketahui keberadaannya, setelah itu dikeluarkan status DPO dan surat penangkapan. Dan kasus terbaru adalah F menculik anak paling kecil di Singapore, F ingin membawa ke Jakarta namun passport anaknya di tangan sang ayah.Tapi tetap saja mana ada ibu yang menculik anaknya sendiri.

Kisah ini membuat saya miris, bersyukurlah kalian yang masih memiliki ibu yang tidak memiliki masalah dengan hak asuh, yang tidak memiliki masalah dengan keadaan yang bercerai, bersyukurlah kalian memiliki Ibu yang masih sayang dan perhatian sama kalian. Mereka walaupun bekerja tapi masih sempat bangun pagi buta untuk membuatkan sarapan anak-anaknya. Mereka saat cape pun masih sempat menanyakan kegiatan saat di sekolah, atau di kampus atau di kantor. Ibu ga minta diberikan hadiah, Ibu ga minta diberikan harta, Ibu pun ga minta dibalas akan jasa-jasanya. Namun seorang Ibu hanya berharap agar anak-anaknya minimal bisa memeluknya di pagi hari, jika yang jauh dari Ibu, telfonlah atau sms lah bahkan bbm lah walaupun hanya dengan menanyakan "sudah makan mah?". Kita tidak akan lahir jika tidak ada Ibu. Kita tidak akan tau kapan Ibu pergi dari kita, Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena merasa belum dapat membahagiakan dirinya.

Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap memberi, bagaikan sang surya menyinari dunia. Apapun yang kita berikan tak seberapa dibandingkan yang Ibu beri. Saya teringan suatu pepatah "Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu."

Mari kita renungkan




Elska,
V

2 comments:

  1. saat ini pengadilan bukan lagi tempat mencari keadilan, tetapi tempat jual beli keadilan...jadi keadilan saat ini bukan gratis tetapi harus beli..keadilan tidak lagi melihat mana yang benar mana yang salah tetapi keadilan melihat seberapa banyak deretan angka di rekening anda.

    ReplyDelete
  2. saya adalah orang yang bertahun2 mencari keadilan...tetapi keadilan susah dicari, seperti menjari jarum dalam samudera atlantik. bertahun2 pula saya tidak bisa bertemu anak saya...jika saya culik mungkin nasib saya akan sama spt ibu F. apes deh...sudah tidak bisa ketemu anak kandung, dipenjara dan pastinya uang ludes untuk beli keadilan yang semakin lama harganya semakin mahal. mungkin hukum di Indonesia sesuai dengan bait lagu kebangsaanya "itulah Indonesia" bukan salah penciptanya tetapi salah para pedagang keadilan yang bermental bejat...semoga mereka diampuni Tuhan dan urung menjadi para penghuni Neraka.

    ReplyDelete